Rabu, 15 Agustus 2012

Bisakah Rp. 7.000,- Menjadi Rp. 700.000,? Mustahil?



Pernahkah Anda memikirkan dan terkagum-kagum pada mujizat yang dilakukan oleh Yesus bagaimana 5 roti dan 2 ikan dapat memberi makan 5.000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak? Bahkan dari 5 roti tersebut dapat menyisahkan 12 bakul penuh? Ya, itu memang mujizat yang luar biasa, bagi Pencipta tidak ada yang mustahil untuk Dia lakukan. Banyak orang yang tidak punya dasar untuk dipertanggungjawabkan menganggap hal ini hanya sebagai ‘cerita dongeng’, cerita hiperbola, cerita fiksi, dan opini yang lainnya yang tidak mempercayai keajaiban dari pekerjaan Yesus. Tapi apapun itu, Alkitab sendiri sebagai sebuah buku yang bukan sekedar buku biasa, namun merupakan buku/kitab yang berisi firman Allah yang tidak pernah tergantikan dan dibatasi oleh zaman di dunia ini. Keempat penulis Injil pun sama-sama memaparkan mujizat yang dilakukan oleh Yesus dalam tulisan mereka (Mat 14:19; Mr 6:34-44; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-14). Saya rasa ini sudah cukup membrikan bukti yang kuat bahwa ini adalah sebuah mujizat yang benar-benar terjadi.
Namun bukan mujizat yang dilakukan oleh Yesus pada konteks masa pelayanannya yang akan dibahas dalam artikel ini, namun tidak terlepas dari hal tersebut dan yang menjadi pertanyaan apakah mujizat yang demikian masih terjadi dalam kehidupan orang percaya saat ini? Masih relevankah mujizat di masa sekarang? Terlepas dari pro dan kontra tentang pandangan ini dari  para Teolog, namun satu hal yang saya ingin bagikan bahwa Mujizat Masih Terjadi dan akan Terus Terjadi dalam Kehidupan orang yang Percaya kepada Allah sampai pada saatnya Allah mengakhiri segala kehidupan di dunia ini.
Saya memiliki seorang teman baik dan cukup akrab. Latar belakang kehidupannya yang cukup membuat saya tersentuh dan cukup prihatin akan keadaannya. Masih kecil telah ditinggalkan oleh ibunya dan hidup dengan ayahnya. Semakin bertumbuh dewasa semakin memori otaknya dipenuhi dengan tindakan kejahtan yang akan dilakukannya, tentu ini karena hasutan dari beberapa keluarganya yang menceritakan kejelekan ibunya yang telah meninggalkannya. Sampai suatu hari dia didorong oleh keluarganya untuk masuk dunia militer, harapan keluarganya adalah supaya dia nantinya bisa membalas kejahatan ibunya. Dia pun semakin tertarik dan usaha balas dendam itu pun menguasi pikirannya. Sampai pada waktu ayahnya meninggalkan, semakin kuat hal itu mengusai pikirannya. Sehingga dia bertumbuh menjadi anak yang keras (dalam hal ini tingkat emosionalnya yang susah untuk dia kendalikan) dan sulit untuk mengatakan ini dan itu pada dirinya.
Namun satu hal yang sungguh saya syukuri dan sungguh saya kagum akan lawatan Allah dalam hidupnya, dia tetap berpegang pada imannya, meskipun adiknya dan keluarganya kembali pada keyakinan mereka yang semula. Tuhan kini menangkap dia yang sempat terlantar dalam dunia ini. Dia kini bekerja di sebuah lembaga pelayanan Kristen dan kini sudah memasuki semester ketiga di sebuah Sekolah Teologi yang ada di Makassar.
Inilah penggalan cerita yang merupakan sebagian dari kesaksian hidupnya akan kebaikan Tuhan dalam kehidupannya:
Dia bekerja di sebuah lembaga dalam beberapa waktu dengan gaji yang tidak lebih dari Rp. 150.000,/bulan. Kemudian dia dijanjikan untuk melanjutkan sekolahnya oleh pemimpin lembaga tersebut. Suatu hari karena dia tidak jadi untuk disekolahkan oleh sebuah lembaga karena ada hal yang terjadi dan tidak sesuai dengan apa yang telah dijanjikannya, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan mencari pekerjaan lain. Dia pun diterima sebagai sales salah satu perusahaan yang ada di Makassar, namun dia harus tugas di luar daerah. Sebagai seorang sales tentu dia harus kejar target pemasaran dan harus menghadapi berbagai tantangan dari para konsumen. Dia bersyukur dapat mendapatkan pekerjaan, namun pekerjaan ini cukup menguras dompetnya yang kini isinya pas-pasan untuk biaya sehari-hari, gajian masih lama.
Suatu ketika, seorang pemimpin sebuah lembaga/yayasan Kristen (saat ini) menghubungi dia. Pemimpin ini pun menawarkan dia untuk join di sebuah lembaga yang akan segera dipimpinnya. Namun dia sudah terlanjur bekerja, tapi sang pemimpin memberikan ruang untuk dia berpikir dan memilih serta memutuskannya dengan baik. Semua tergantung pada kepeutusan dia. Akhirnya dia memutuskan untuk join, karena memang dia sudah kenal baik bapak tersebut. Akhirnya lewat komunikasi via telepon dia diminta untuk bisa menjadi pengawas dalam pembangunan gedung kantor yayasan yang segera akan dibangun.
Tentunya hal ini memberikan harapan yang besar bagi dia, tapi jarak antara tempat indekosnya dan lokasi yang akan dia tinggal sebagai pengawas cukup jauh.  Inilah yang menjadi masalahnya, uang didompet tinggal Rp. 7.000,. pertama-tama dia harus kerumah temannya dan tentu ongkos dari Rp. 7.000, tersebut akan berkurang. Waktu dia akan menuju ke lokasi tersebut, uangnya sisa Rp. 3.000, dan itu adalah uang pas untuk menuju ke lokasi. Namun untuk mendapatkan angkot yang menuju ke sana, harus disebuah jalur angkot yang khsus trek ke lokasi tersebut. Masalahnya, itu masih jauh dari tempat di mana dia saat itu. Dengan terpaksa dia harus memutar otak, akhirnya dia putuskan untuk berjalan kaki yang kira-kira berjarak 3 kilo untuk mendapatkan angkot yang trek ke lokasi tujuan. Dan akhirnya singkat cerita sampailah dia ke tujuan. Kemudian dia pun bertemu dengan bapak tersebut dan dia diminta untuk tinggal di sebuah rumah kecil yang ada di dalam lokasi. Bapak itu kemudian bertanya sama dia, karena sama sekali dia tidak membawa apa-apa. Saat itu juga bapak tersebut meminta dia untuk mengambil pakaiannya di tempat kosnya, itu artinya dia harus kembali lagi dengan membutuhkan ongkos. Tapi uang Rp. 3.000, adalah unag terakhirnya yang telah dipakainya untuk ongkos ke lokasi dan sama sekali sesen pun sekarang dia tidak punya. Tanpa menunggu jawaban dari ‘anak’ ini, bapak ini melanjutkan ucapannya untuk supaya dia naik taksi saja.
Dengan rasa berat juga dia sampaikan kepada bapak tersebut, “tidak usah pak, kalau boleh saya pakai motorya ibu saja.” Akhirnya dia pun berangkat dan kembali dengan sukacita. Yang menjadi luar biasanya adalah, mujizat yang pernah dilakukan Yesus tentang 5 roti dan 2 ikan terjadi dalam hidupnya. Beberapa hari kemudian dia mendapatkan gaji Rp. 700.000,-. Harapan yang semulanya hampir pupus kini telah kembali. Dari Rp. 7.000, menjadi Rp. 700.000,. Dalam Alkitab angka tujuh memang adalah angka yang ‘sempurna’. Saya rasa kesaksiannya ini adalah kesaksian yang sungguh sempurna dapat memberkati orang-orang untuk tidak meragukan Tuhan dalam hidupnya. (Tentu angka 7 ini tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang menghubungkan angka-angka seperti kebanyakan orang yang percaya akan mitos demikian, namun ini hanya penjelasan akan keberadaan angka 7 dalam Alkitab).
Teman saya ini, sampai sekarang bekerja di sebuah lembaga Kristen yang dipimpin oleh bapak tadi. Meskipun serangan-serangan masa lalunya masih kadang mengahantuinya, namun dia telah berusaha untuk mengampuni ibunya. Dia telah pernah mengunjungi ibunya dan tidak lagi menyimpan kesalahan masa lalunya. Meskipun ibunya masih tidak dapat menerimanya secara baik karena keluarga ayahnya yang masih membenci ibunya sampai sekarang. Sampai sekarangpun keputusannya untuk menjadi hamba Tuhan masih mendapat tantangan dari keluarga ayahnya, karena mimpi keluarganya supaya dia masuk dalam militer telah pupus. Suatu rencana Tuhan yang begitu Agung, dia tahu mana yang terbaik dan mana yang tidak. Sebab bukan manusia yang harus menentukan masa depan kita, tetapi Tuhan sendiri. Demikian kata Mzm. 118:8 “Lebih baik berlindung pada Tuhan, daripada percaya kepada manusia.”
Jadi Rp. 7.000, menjadi Rp. 700.000, adalah hal yang kecil bagi Tuhan. Asal percaya kepada-Nya, apapun dapat Anda terima darinya yang sesuai dengan kehendak-Nya. Asal jangan bergantung pada mujizat tetapi bergantung pada Allah, pembuat mujizat itu. For with God nothing is impossible.
Kiranya mujizat yang diaalami oleh saudara kita tersebut dapat semakin menguatkan iman kita dan memberikan kita semangat untuk tetap percaya akan Tuhan Yesus. Gbu


Jumat, 10 Agustus 2012

PEMIMPIN PERLU MENJADI "THE MAIN ICON"

Pemimpin merupakan seorang figur yang pada dasarnya menjadi ikon bagi para pengikutnya. Jika seorang pemimpin tidak bisa menjadi ikon yang utama (the main icon), alangkah malang nasib para pengikutnya. Kata sebagian orang, sebaiknya manusia tidak menjadikan seseorang sebagai idola yang dijadikannya dasar sebagai pijakan utama untuk maju, berubah, dan melangkah lebih baik, tetapi menjadikan seseorang sebagai sebuah teladan adalah hal yang wajar saja. Lewat teladan hidup seseorang, orang lain bisa bangkit, lebih bergairah dan bersemangat untuk 'build their future'. Intinya, tidak menjadikan mereka sebagai ‘model’ yang mengarah kepada ‘idolatry’.
Tentu setiap orang memiliki opini tentang pengertian seorang pemimpin. Namun bagi saya pribadi, seorang pemimpin merupakan seorang yang mampu memberikan teladan yang baik dan mampu mempengaruhi orang lain dengan kepribadian yang nampak lewat  karakternya. Seorang pemimpin yang sejati tidak hanya bergantung pada teori kepemimpinan yang ada, tetapi yang lebih penting adalah mereka melakukan seturut dengan teori yang mereka miliki, pelajari ataupun dijadikannya sebagai metode kepemimpinan dalam menjalankan tugas/pelayanannya.
Kepemimpinan memang tidak terlepas dari organisasi, manajemen, dan administrasi. Semuanya harus berjalan ‘balance’ dalam penerapannya. Sebab kepemimpinan merupakan bagian dari organisasi, demikian juga sebaliknya. Jika salah satu lebih dominan dalam penerapannya, tentu akan terjadi masalah-masalah di dalamnya.
Saat ini, kepemimpinan hamba yang diajarkan oleh Yesus sendiri (servant leadership) sudah jarang didapatkan penerapannya di dalam organisasi Kristen. Organisasi Kristen lebih cenderung meniru gaya dunia (sekuler) dalam menjalankan organisasinya. Seolah-olah metode-metode kepemimpinan sekuler dalam berorganisasi merupakan hal yang akan tetap relevan dalam penerapannya dan menganggap metode kepemimpinan yang diajarkan oleh Yesus sudah usang dan tidak sesuai dengan konteks masa kini. Tapi, bagi saya pribadi pengajaran Yesus tidak pernah dibatasi dengan konteks zaman, karena pengajarannya selalu relevan dan sinkron dengan setiap zaman. Banyak perusahan-perusahan sekuler yang justru menjadikan metode kepemimpinan Yesus sebagai metode dalam kepemimpinannya, sangat miris tentunya bagi sebagian pemimpin Kristen yang masih belum sadar akan langkahnya yang sudah menyimpang dari jalan yang sebenarnya ditunjukkan bagi mereka.
Suatu ketika saya mengikuti sebuah pelatihan kepemimpinan yang memang masih sangat dasar. Saya menikmati materi-materi yang disampaikan oleh ‘speakers’ yang menjadi pembawa materi dalam kegiatan ini. Salah satu penyajian yang sangat menarik buat saya adalah materi ‘kepemimpinan’ dan ‘pengambilan keputusan’. Banyak hal baru yang saya dapatkan, begitu pun dengan materi-materi yang menyajikan pemahaman akan organisasi, manajemen dan administrasi. Namun, hal yang membuat saya prihatin adalah tim pelaksananya yang tidak dapat mendisiplinkan diri mereka sendiri, sehingga yang menjadi korban adalah para peserta. Saya sempat berpikir ini bukan OSPEK di kampus, tapi pelatihan. Kalau pelatihan lain dan bersifat sekuler, yah wajar-wajar saja. Tapi ini pelatihan kepemimpinan Kristen, tapi kenapa jadi kacau begini. Tayangan Masterchef di salah satu channel televisi saja selalu on time dan sangat menghargai waktu, kenapa pelatihan ini malah menjadi kacau. Intinya  mereka menutut peserta bisa menjadi pemimpin yang baik, tetapi pelaksananya sendiri belum bisa menjadi pemimpin yang bisa menjadi contoh yang baik. Pastinya mereka sadar bahwa ‘konsisten pada waktu’ dan ‘disiplin waktu’ adalah hal yang tidak kalah penting dari yang lain dalam proses kepemimpinan, tapi sama sekali tidak memperdulikannya adalah hal yang bodoh. Alangkah memprihatinkannya ‘orang yang beusaha membentuk orang lain tapi dirinya sendiri belum terbentuk’. Pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa membentuk manusia lainnya seturut dengan keinginannya, tetapi melalui karakter hidup, orang lain akan terbentuk dengan sendirinya. Benarlah kalimat bijak yang berkata, ‘untuk menjadi pemimpin yang besar, mulailah dengan belajar memimpin diri sendiri’.  Sebagai seorang calon pemimpin ke depan tentu  perlu kritis dan bijak dalam menanggapi hal demikian.
Pemimpin yang baik tentu akan memberikan teladan yang baik dan membagikan rahasia keteladananannya bagi para pengikutnya, karena pemimpin yang sejati tahu ada waktunya dia berhenti dan digantikan oleh orang lain. Dia mampu meregenerasi pemimpin-pemimpin muda dan mempersiapkan mereka ‘to be a leader the future’. Karena itu, melihat sosok pemimpin bukan dari kefasihannya membagikan teori dan kepintarannya dalam berorganisasi, tetapi lihat dari karakter hidupnya, lihat dari buah yang dihasilkann. Karena Firman Tuhan berkata dalam Matius 12:33, “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya.  Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” 
Saya rasa metode pelayanan Yesus bukanlah hal yang bersifat relatif untuk diterapkan dalam kepemimpinan tergantung sikon yang ada, tetapi metode pelayanan yang Yesus lakukan adalah hal yang mutlak diterapkan dalam kepemimpinan Kristen kalau ingin melihat perjalanan kepimpinan itu lebih baik dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Gbu

Sabtu, 28 Juli 2012

Hidup dan Mati bagi Kristus


Nas: Fil. 1:12-26

Pendahuluan
            Apa yang bisa Anda beli dengan uang?
            Hidup tidak bisa dibeli dengan uang tetapi kematian bisa.
            Apa yang paling ditakuti manusia di dunia ini?
Ada perbedaan antara orang dunia dan orang percaya. Orang dunia takut akan kematian, namun sebagai orang percaya Anda dan saya tidak perlu takut akan kematian, sebab Saya dan saudara tahu kemana kita akan pergi setelah melewati kematian. Saudara dan saya telah diberikan harapan dari janji sang penebus.
Pendaguluan Surat Filipi
Surat ini ditulis oleh Paulus pada saat dia ada di dalam penjara karena pemberitaannya akan Kristus. Apa yang diharapkan dan paling dirindukan oleh orang-orang yang dipenjara? Tentu ada penantian yang panjang. Mereka tentu ingin bebas, kebebasan akan membuat mereka bersukacita, bahkan bukan hanya mereka tapi keluarga mereka pun tentu akan sangat bersukacita (Contoh, berita tetang kebebasan Ariel Peterpan, fans yang menggila).
Namun berbeda dengan Paulus, di dalam penjara justru dia menikmati kehidupannya. Dia senantiasa bersukacita membagi kesaksiannya kepada jemaat di Filipi tentang apa yang dialami di dalam penjara, meskipun dia penuh dengan penderitaan. Penderitaan justru tidak membat dia untuk bersungut-sungut tetapi senantiasa bersukacita.
Apa yang dapat kita pelajari dari Paulus? Paulus mengajar kita untuk bersukacita di dalam setiap penderitaan (problem dan pergumulan) yang di alami dalam hidup kita, entah itu di dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan. Sebab sukacita menolong kita menghilangkan kekwatiran hidup. Percaya akan janji Tuhan di dalam Rat. 3:22,23. Yeremia selalu melihat bahwa kebaikan Tuhan tidak pernah berakhir dalam ppenderitaan, selalu ada harapan.
Sekarang, bagaimana Paulus menyatakan sukacitanya? Mari baca dalam Fil. 1:21.
1.      Hidup bagi Kristus
Semua orang ingin hidup bahagia, tidak ada orang yang berpikir untuk menikmati hidup dengan menderita. Bahkan secara manusia, orang akan cenderung untuk berpikir hidup kaya daripada hidup miskin. Anda ingin kaya atau miskin? Tentu tidak ada yang ingin miskin, semua ingin hidup di dalam kekayaan. Bahkan kalau saya bertanya kepada seorang Pendeta, dia tentu akan menjawab ingin hidup kaya kalau saya bertanya akan kedua pilihan ini.
Mengapa kira-kira? Karena pada dasarnya manusia cenderung berpikir bahwa dengan kekayaan kita tidak akan mengalami penderitaan, bisa makan enak terus, mau beli ini beli itu tersedia. Tapi sadarkah kita kalau pada dasarnya kekayaan akan membuat hidup manusia juga menderita? Kekwatiran akan menjaga, memikirkan harta akan membuat penderitaan bagi seseorang. Makanya benarlah kata firman, “Karena di mana hartamu berada, distu juga hatimu berada” (Mat.6:21; Luk.12:34)-Misalx. ……selalu kepikiran, wah tadi saya kunci leher tidak yah motor diparkiran? Atau tadi sebelum saya berangkat, saya sudah matikan kompor tidak yah. Kalau tiidak rumah kesayanganku bagaimana nantinya?
Ada kekwatiran, itulah sebabnya Tuhan tidak pernah mengatakan atau menjajikan kekayaan berlimpah-limpah, yang ada janji Tuhan adalah berkat yang melimpah Kej.22;11, berlimpah susu dan madu Bil. 14:8, sukacita yg berlimpah, Mzm.16:11kesejateraan yg berlimpah Mzm.37:11, damai sejahtera yg berlimpah Mzm.72:7, dsb.
Makanya Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita berdoa demikian Mat.6:11 “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Tuhan ingin kita hidup berkecukupan, karena Tuhan tahu apa yang akan terjadi kalau kita hidup di dalam kekayaan, banyak orang akan meninggalkannya karena kesombongan. Pelajaran dari Kel.16, tentang bangsa Israel yang desediakan manna oleh Tuhan selama 40 tahun , Tuhan mengajar mereka untuk hidup secukupnya, diperintahkan untuk mengmpulkan manna yang secukupnya sesuai dengan takaran Gomer yang ditetapkan oleh Allah. Kej. 16:8, Yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan. Intinya bahwa Allah ingin kita hidup di dalam kecukupan. So, apakah salah jika anak-anak Tuhan itu menjadi kaya?  Tentu tidak, tapi hiduplah di dalam kekayaan yang bukan kekayaan yang bersifat negative, selalu mencukupkan diri dengan apa yang ada (kekayaan dalam pengertian berkecukupan di dalam Tuhan), bukan menggunakan kekayaan untuk hal yang tidak benar, untuk ketidakpuasan dan terlebih menggunakan kekayaan sebagai berhala. Mat.6:24, Tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, Allah dan Mamon (kekayaan).
Paulus merasakan bahwa hidup yang dia nikmati semata-mata untuk Kristus. Karena itu, selama dia hidup dia terus memberitakan Kristus. Ia menganggap bahwa hidup itu sebagai kesempatan untuk menginjil, sebab kalau dia sudah mati dia tidak aka nada kesempatan lagi. Meskipun harus menderita, namun dia menikmati penderitaannya itu dengan sukacita.
Hidup untuk Kritus itu artinya hidup menghasilakan buah (Gal.5:22,23). Pada dasarnya buah yang dituntut Tuhan adalah buah yang baik. Kalau kita tahu itu baik, mari kita melakukannya dan kalau kita tahu hal itu jahat, janganlah kita melakukannya (MIs. Berbuat kasih dan berbuat gossip)
2.    Mati bagi Kristus
Tidak perlu takut mati, sebab kita tahu tujuan akhir kita akan kemana. Ada ungkapan, banyak jalan menuju Roma. Tapi satu hal yang kita ingat hanya satu jalan menuju kerajaan surg (Yoh.14:6).
Bagi Paulus hidup dan mati sama saja untuk Kristus. Toh juga dia hidup sekarang, dia hidup untuk Kristus dan pada saat dia mati pun dia akan bertemu dengan Kristus, ini iman Paulus yang begitu besar. Tapi jangan juga cepat mau mati, sense oh humor “saya mau ketemu Yesus cepat-cepat, saya bunuh diri saja biar cepat ketemu Yesus daripada menderita di dalam dunia, that’s stupid! Tapi nikmatilah hidup ini dengan manghasilkan buah bagi Allah sehingga orang lain menikmati buah itu dari hidup saudara. Tahukah kita bahwa ketika kita menghasilkan buah, Tuhan tidak ingin kita menghasilkannya untuk dia saja, tetpai bagaimana orang lain dan diri kita sendiri menikmatinya. Itulah perbedaan anatar pohon yang berbuah dengan kita yang berbuah, pohon mengahsilkan buah hanya untuk mahluk hidup yang lain tidak untuk dirinya sendiri.
Pada intinya, kalau kita mau bahagia, penuh dengan sukacita (full joy), tidak ckup kita hanya sekedar tahu akan firman, tapi bagaimana kita melakukan apa yang kita tahu. Itu sebabnya banyak ‘pendeta’ yang hidupnya masih perlu dikasihani, menderita, mengemis. Padahal mereka berkhotbah berkobar-kobar, bagaimana hidup bahagia, doa yang benar, langkah2 sukses, percaya akan faith is move the mountain, tetapi mereka sendiri tidak melakukakannya karena mereka hanya sekedar  tahu.
Jadi, ingin hidup dalam sukacita, tidak cukup hanya sekedar ‘tahu’ tapi mau ‘melakukannya’. Jangan kita hanya tahu tentang firman hidup dan mati bagi Kristus   tetapi mari kita siap untuk mengahdapinya. Iman tidak hanya bearti percaya, tahu akan firman Tuhan, tetapi percaya berarti kita siap melakukannya. Amin.

Rabu, 13 Juni 2012

MAMPUKAH ANDA MENGAMPUNI SEORANG YANG MERUSAK/MERENGGUT HARGA DIRI “VIRGINITAS” ANDA?



          Anda boleh saja berkata kepada orang yang bersalah kepada Anda bahwa, “saya sudah mengampunimu,” tetapi belum tentu hati Anda dapat melepaskan pengampunan yang sejati. Memang pada dasarnya berkata mengampuni itu mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang, tetapi pengampunan yang sejati sulit untuk didapatkan. Namun kisah seorang gadis di bawah ini membuat penulis salut akan apa yang telah dilakukan olehnya.  Sebuah tindakan yang tidak semua orang dapat melakukannya sudah dia lakukan.  Salah satu hal yang membuat penulis sadar bahwa pengampunan itu lahir karena seseorang mau merespon panggilan Allah dalam kehidupannya.  Kesadaran gadis ini akan panggilan Allah membuat dia mau terbuka bagi orang yang dapat menyimpan rahasia pribadinya tentang masa lalunya. Dia seorang ‘hamba Tuhan’ dan saya percaya bahwa tidak banyak di antara hamba Tuhan yang mau membuka ‘aib’ masa lalunya dan terus membentengi diri tentang ‘sampah’ hidupnya. Tapi, siapa pun Anda, ingat bahwa ‘sampah’ itu dapat menjadi berkat bagi orang-orang yang Anda layani.  Namun Anda harus berhikmat dalam menjadikan ‘sampah’ itu sebagai hal yang berharga dalam hidup pelayanan Anda.

          Demikian kisah ‘gadis’ ini:
          Dia lahir dari seorang ibu yang meninggalkan Tuhan karena mengikuti keyakinan sang suami yang tidak mengenal Tuhan Yesus. Ibunya mengandung dia di luar nikah alias ‘MBA’, dia merasa bahwa dirinya adalah anak haram, namun bagi penulis ‘istilah demikian tidak berlaku bagi Tuhan.’  Apa pun pendapat Anda, bagi penulis dia tetap gadis yang diimpikan oleh Tuhan lahir ke dunia ini, hanya karena kesalahan dari orang tua maka hal itu terjadi dalam hidupnya.  Tapi, Tuhan pun masih memperhitungkan kesalahan yang diperbuat oleh orang tua (manusia), meskipun ada hukuman-hukuman yang harus dijalani bagi mereka yang bersalah.
          Masih usia yang terlalu dini, ketika adiknya dikandung, sang ayah meninggalkan dia dan keluarganya dan menikah dengan wanita lain.  Singkat cerita, gadis ini beranjak dewasa dan suatu hari ayahnya datang menemuinya.  Mungkin karena lama tidak pernah melihat sosok ayahnya, ketika anak gadis ini bertemu dengan ayahnya, dia merasa biasa saja.   Sang ayah kemudian mengajak dia jalan-jalan.  Karena malam telah menghampiri perjalanan mereka, maka sang ayah mengajak anak gadisnya untuk bermalam di sebuah penginapan.  Ayahnya kemudian membawa ia masuk dalam sebuah kamar penginapan dan meminta anak gadisnya untuk menunggu dia sambil menyerahkan segelas air kepada anak gadisnya. Ketika ayahnya pergi, anak gadis ini kemudian ‘minum’ dan tertidur pulas. Besok paginya ia terbangun dan melihat ayahnya tidur terlelap di sampingnya. Ia kemudian ke kamar mandi, saat anak gadis ini sedang ‘maav’ buang air, ia merasa kesakitan pada bagian ‘alat kelaminnya’ dan melihat ada darah keluar.  Kini dia tersadar bahwa ayahnya telah merenggut ‘harga dirinya’.  Dia menangisi ‘virginitasnya’ yang telah hilang oleh ayah kandungnya sendiri.  Ayahnya pun kini tersadar kalau anak gadisnya telah sadar akan perbuatan yang telah dia lakukan karena melihat anaknya mengurung diri di kamar mandi. Gadis in tidak mau keluar dari kamar mandi meski ayahnya memaksa dia dan minta maaf akan kesalahannya.  Saat mendengar ayahnya sudah tidak ada di ruangan itu, dia kemudian lari pulang ke rumah ibunya.
          Harapan gadis ini tinggal satu, dia berharap ibunya tidak akan marah terhadap dirinya dan berharap ibunya akan marah kepada ayahnya. Namun dia menyimpan rahasia itu selama 5 tahun terhadap ibunya. Ia melakukan hal itu karena ketakutan dalam dirinya. Ia takut ibunya membenci dirinya atau membenci ayahnya. Dengan rasa takut anak gadis ini pun melaporkan perbuatan ayahnya terhadap dirinya 5 tahun yang lalu (setelah ia mengenal Tuhan dan setelah dia sharing dengan seorang hamba Tuhan). Ibu mana yang tidak akan sakit dan murka mendengar hal ini terjadi terhadap anaknya sendiri. Anak kandungnya ‘diperkosa’ oleh suaminya sendiri yang adalah ayah dari anaknya sendiri yang menjadi korban. Anda tentu tidak akan membiarkan hal ini terjadi, kalau pun hal ini terjadi apa yang menjadi tindakan Anda selanjutnya???
Tapi harapan anak ini kini telah pupus dan menjadi sakit hati yang begitu dalam. Ibunya hanya menjawab, ‘oh begitu ya, saya kira kamu hamil’..??? anak gadis mana yang tidak merasakan kehancuran yang mendapat jawaban demikian? Harapan kini telah sirna dan tertelan ombak yang menghantam kehidupan anak gadis ini. Sakit??? tentu hal itu sangat menyakitkan.
Bertahun-tahun anak ini menyimpan kepahitan dalam hidupnya sama ayahnya. Tapi pengampunan itu kini dia telah lepaskan ketika dia berani merespon panggilan Tuhan dalam kehidupannya. Saat dia terbuka kepada orang-orang yang dapat diperacyainya, ia kini merasa lega dengan semua itu. Kini dia sudah berkomunikasi baik dengan ayahnya. 
Baginya, kalau Tuhan saja mau mengampuni manusia, mengapa dia tidak bisa untuk mengampuni ayahnya? Dia sudah menjadi milik Tuhan dan dia sadar untuk menjadi berkat bagi ayahnya yang belum mengenal Tuhan Yesus.  Harapannya, semoga ayahnya dapat mengenal Tuhan yang dia sembah dalam hidupnya.
Kesalahan apa yang orang lain perbuat dalam hidup Anda, namun tidak mampu Anda untuk lepaskan dan memberi pengampunan kepada saudara Anda saat ini? Kesalahan jangan disimpan dalam kehidupan ini, karena semua itu hanya akan merusak kehidupan saudara, selama masih ada waktu, lepaskanlah pengampunan itu bagi sesama saudara.
Mari kita belajar dari kisah gadis di atas, perjuangan yang luar biasa dan tidak mudah. Namun, meskipun berat ia memperoleh kelegaan di dalamnya. Tuhan Yesus pernah berkata di dalam  Matius 11:28 bahwa, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Pengenalan akan Tuhan Yesus yang benar akan menyadarkan manusia untuk mau mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain terhadap dirinya. Orang percaya yang sadar akan pengampunan dosa yang telah berlaku bagi dirinya oleh pengorbanan Tuhan Yesus akan memberlakukan pengampunan itu juga dalam kehidupannya setiap saat.
          Kisah di atas adalah kisah nyata, anak gadis tersebut adalah sahabat dekat penulis. Semoga kisah hidupnya dapat memberkati saudara. Kisah hidupnya sangat memberkati hidup penulis dan menjadi inspiratif untuk penulis lebih maju di dalam pelayanan. Karena kehidupan penulis tidak lebih baik dari kisah-kisah hidup sahabat-sahabat yang telah mempercayai penulis. Gbu

Jumat, 25 Mei 2012

BUAH DARI USAHA HIDUP DENGAN BERINTEGRITAS DALAM PELAYANAN YANG DIPERCAYAKAN


Integritas berbicara tentang bagaimana seseorang melakukan apa yang dikatakannya. Seorang pemimpin, entah itu yang berpengalaman ataupun yang masih pemula (pemimpin muda) harus memiliki integritas dalam tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Tidak mungkin dia bisa memimpin jika tidak mampu untuk melakukannya sendiri apa yang selalu dituntutnya dari orang lain. Intinya, seorang pemimpin harus menjadi pencetus, penggerak, pendorong dan pelaku utama dalam sebuah ide yang muncul dari dirinya dalam pemenuhan visinya.
Suatu ketika, saya dipercayakan menjadi anggota BEM STTJ Makassar tahun 2007/2008. Saya ditempatkan sebagai anggota dari seksi kebersihan BEM. Somehow, saya mendapat kepercayaan ini, tapi lewat itu saya berusaha untuk mengerjakan apa yang menjadi tugas yang dipercayakan kepada saya. Latihan integritas saya dapatkan melalui kepercayaan ini, berusaha untuk bangkit dari kemalasan untuk bangun setiap pagi untuk kerja bakti di lingkungan kampus. Berusaha untuk mencintai yang namanya lingkungan yang bersih dan bebas sampah. Berusaha untuk tidak hanya menyampaikan program kebersihan dalam rapat BEM, tetapi menjadi pelaku utama di dalamnya untuk mengerjakan apa yang menjadi gagasan untuk dikerjakan.
Setiap tahun ada pergantian pengurus BEM, dan tahun kepengurusan 2008/2009 saya kembali terpilih menjadi pengurus dalam organisasi ini. Ya, setidaknya jabatan saya sedikit naiklah menjadi Koordinator seksi kebersihan. Jadi, sekarang tidak mengurus mempersiapkan peralatan kerja bakti setiap pagi atau pun ketika ada kerja bakti massal di kampus, sekarang mengenai absensi, denda kerja bakti, pertanggung jawaban laporan denda kerja bakti kepada Bendahara Kampus dan kepada BPH BEM dan laporan kegiatan seksi kebersihan kini menjadi tugas tanggung jawab saya. Tugas dan pelayanan yang mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu penting dan biasa saja, tapi buat saya semua merupakan tugas yang begitu mulia dan sangat membuat saya bangga. Intinya saya kadang merenungkan, kalau tidak ada seksi kebersihan BEM kampus, tidak mungkin kegiatan kebersihan bisa berjalan. Nah itu dia yang saya dapatkan bahwa, apa pun yang dipercayakan kepada kita, kerjakanlah itu dengan sepenuh hati tanpa harus bersungut-sungut. Semua saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Kalau ketua BEM mendapat pujian karena apresiasi Rektor atas kebesihan kampus, itu tidak terlepas dari semangat kerja seksi kebersihan. Kami hanya bersembunyi dibelakang jaket almamater Ketua BEM dan BPH lainnya, buat saya itu sudah lebih dari cukup.
            Melakukan tanggung jawab dengan sepenuh hati selalu mendapat perhatian dari Tuhan. Tapi jangan mengerjakan sesuatu hanya karena ingin cari perhatian dari Tuhan dan orang lain, semua harus murni dari dalam hati. Siapa sangka, impian saya untuk menjadi bagian dari Panitia OSPEK tahun lalu yang tidak tercapai kini tercapai. Bahkan, saya tidak menyangka Tuhan memberikan surprise seperti ini. Dulu saya hanya memimpikan menjadi salah satu anggota Panitia OSPEK, tapi di antara ke tiga orang yang dipilih oleh Ketua BEM untuk menjadi Ketua Panitia OSPEK, saya yang terpilih. Akhirnya saya dipercayakan untuk menjadi ketua OSPEK bagi mahasiswa baru Angkatan 2009. Suatu penghargaan yang luar biasa buat saya dari BEM, kampus dan tentu yang utama dari Tuhan Yesus.  Satu hal lagi saya diminta untuk memilih anggota panitia dan menetukan sendiri tugas-tugas mereka. Tentu cukup menantang, tapi saya harus berkata “jangan sampai saya terkesan memilih orang-orang dalam/dekat dengans saya”. Jadi, saya sedemikian selektif untuk memilih dan saya benar-benar pure memilih mereka yang sama sekali tidak pernah menjadi panitia OSPEK tahun-tahun sebelumnya. Menantang tantangan buat saya adalah sesuatu yang luar biasa berkesan dalam tugas pelayanan. Pada akhirnya saya mau “say thanks” buat mereka yang sudah bekerja keras bersama dengan saya dalam tugas ini. 

Thanks buat Bro & Sis: Andrew Parannuan (‘05), Irvin Tolanda (‘05), Frengky Baganu (‘05), Herwin Exe (‘05), Alfrida Lantang (‘05), Rya C. Sandewa (‘05), Firman Christian (‘06), Shintya Kapojos (‘06), Rosyanty Bambaheri (‘06), Komang Gamaliel (‘06), Samsul (‘06), Richard Mandagi (‘06), Yuni Gotib (‘06), Tison (‘06), Harald Glandiniv Kadiaman (‘07), Sera Lye (‘07), Oka Astawa (‘07), dan Eberch Sitoena (‘07). Thanks, kalian luar biasa.


Beberapa Jabatan yang pernah dipercayakan kepada saya selama saya study di STTJ Makassar:
1.      Anggota seksi Kebersihan BEM th. 2007/2008
2.      Bendahara ASPRA (Asrama Putera) th. 2007/2008
3.      Panitia Campus Christmas 2007 bagian Perlengkapan dan Dekorasi
4.      Wakil Sekretaris Panitia Festival Vocal Group Se-SulSelbar th. 2008 di Gedung RRI Makassar yang diselenggarakan oleh Angkatan 2005
5.      Koordinator Seksi Kebersihan BEM th. 2008/2009
6.      Wakil Ketua ASPRA (Asrama Putera) th. 2008/2009
7.      Panitia Campus Christmas 2008 bagian Dekorasi
8.      Sekretaris Panitia Mission Trip Angkatan 2005 th. 2009 di Soroako
9.      Ketua Panitia OSPEK MABA Angkatan 2009
10.  Koordinator Departement Kreatifitas dan Kesenian BEM 2010/2011 (sempat namun tidak sampai selesai masa kepengurusan).

Rabu, 09 Mei 2012

PANDANGAN ETIKA KRISTEN SECARA ALKITABIAH TENTANG PERCERAIAN


BAB I
PENDAHULUAN
            Pernikahan adalah impian sebagian besar manusia di dunia ini. Tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagian manusia menepatkan pernikahan sebagai salah satu bagian dari tujuan hidup mereka. Namun pernikahan bukanlah ukuran bagi manusia dapat disebut normal, maksudnya menikah atau pun tidak menikah bukanlah suatu ukuran yang menjadi patokan bahwa manusia itu normal atau tidak normal. Karena itu, banyak orang berpikir bahwa menikah hanyalah sebuah pilihan hidup bagi mereka yang mau menjalaninya.
Impian sebagian besar manusia.
            Pada dasarnya manusia ingin membangun rumah tangga yang penuh kebahagiaan lewat pernikahan yang mereka laksanakan. Namun manusia boleh saja berharap, tapi proses dalam membangun kebahagiaan itu tentulah tidak mudah. Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh kedua pasangan suami isteri dalam sebuah rumah tangga. Selain menguji kedewasaan dalam bertindak, terlebih juga setiap tantangan yang diperhadapkan kepada sebuah rumah tangga adalah ujian kesetiaan, baik sebagai suami maupun sebagai isteri.
            Salah satu tantangan yang menjadi isu terhangat dalam sebuah keluarga disepanjang abad adalah kasus perceraian. Kasus perceraian ini adalah masalah yang selalu menimpa sebagian besar keluarga yang tidak sanggup lagi mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Masalah ketidaksetiaan seorang suami atau isteri sehingga berselingkuh, masalah ekonomi keluarga, masalah ketidakcocokan, masalah ketidakmampuan seorang suami bertanggung jawab, dan berbagai masalah lain selalu menjadi pemicu terjadi perceraian dalam sebuah rumah tangga.
            Melalui media elektronik  maupun media cetak, berita hangat dari kalangan selebriti tentang perceraian selalu menjadi topik menarik yang dibahas oleh para pencari berita. Perceraian seolah-olah sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian selebriti tanah air maupun selebriti manca Negara. Mereka sepertinya membeli sebuah pernikahan dengan uang mereka, ketika tidak ada lagi kecocokan di antara mereka, perceraian menjadi jalan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Ini hanya sebagian kasus perceraian dari kalangan selebriti yang terekspos, tentu begitu banyak kasus yang terjadi dikalangan masyarakt lainnya yang tidak terekspos. Pernikahan yang diadakan secara sakral dalam setiap ajaran agama, kini seolah-olah tidak ada maknanya. Mereka boleh menikah kapan saja, setelah itu bebas juga untuk bercerai.
            Perceraian kini sudah menjadi hal yang biasa terdengar dan terjadi, baik di luar maupun di dalam gereja sendiri. Tentu kasus demikian menjadi tantangan bagi para pemimpin rohani pada khususnya. Para pemimpin rohani dalam hal ini orang-orang yang ahli dalam bidang agama harus menjadi mediator dan mengambil peranan penting dalam masalah seperti ini. Sebab merekalah yang selalu dipercayakan untuk memimpin upacara perkawinan atau pernikahan yang merupakan upacara yang sakral. Dalam kekristenan, pemimpin rohanilah yang berperan untuk memberkati setiap orang yang dinikahkan. Karena itu merupakan suatu tanggung jawab bagi mereka untuk mengatasi masalah-masalah demikian berdasarkan pengajaran firman Tuhan dalam Alkitab yang ada.
            Salah satu yang menjadi latar belakang pembuatan karya ilmiah ini adalah pandangan tentang perceraian dalam hubungannya dengan etika Kristen. Adakah dasar yang membenarkan kasus perceraian dalam pandangan Alkitab yang merupakan patokan kebenaran dalam kekristenan.


BAB II
PANDANGAN ETIKA KRISTEN TENTANG PERCERAIAN
Arti Perkawinan dalam Pandangan Kristen
            Perceraian terjadi karena adanya perkawinan, maksudnya perceraian merupakan produk akhir dari sebuah perkawinan yang tidak dapat dipertahankan lagi. Perceraian tidak mungkin terjadi apabila tidak ada perkawinan, karena itu penting untuk mempelajari sedikit tentang arti perkawinan, khusunya perkawinan dalam pandangan kekristenan.
Perkawinan dalam pengajaran Kristen merupakan salah satu upacara yang sakral. Karena nilai sakralnya, tidak sembarang orang yang harus mengadakan acara pemberkatan dalam sebuah gereja. Pemberkatan dua insan yang dipersatukan dalam sebuah perkawinan harus diberkati oleh hamba Tuhan, hamba Tuhan dalam hal ini mereka yang ada dalam jawatan Pendeta. Nilai sakral dari perkawinan itu juga membuatnya harus dihormati. Stephen Tong berkata dalam bukunya bahwa, “Kitab Suci mengharuskan setiap orang untuk menghormati pernikahan (Ibr. 13:4). Tidak ada pengecualian. Baik orang yang sudah menikah maupun yang belum menikah, yang belum mempunyai kesempatan menikah atau yang tidak menikah, harus menghormati pernikahan.”[1]  
Perkawinan adalah komitmen seumur hidup antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang melibatkan hak-hak seksual timbal balik. Setidaknya ada tiga unsur dasar dalam konsep Alkitab tentang perkawinan, yaitu (a). perkawinan adalah antara seorang laki-laki dengan perempuan,     (b). perkawinan melibatkan penyatuan seksual, dan (c). perkawinan merupakan perjanjian di hadadapan Allah.[2]
Jadi, menurut pandangan di atas, pada dasarnya perkawinan adalah suatu ikatan perjanjian di hadapan Allah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam membangun suatu kesatuan (dalam sebuah keluarga). Tentu tujuan dalam perkawinan bukan hanya untuk penatuan seksual atau pemenuhan kebutuhan seksual semata, namun pasangan suami isteri harus saling melengkapai satu sama lain dalam membangun rumah tangga yang Allah percayakan kepada mereka. Terlebih lagi tujuan utama yang harus diingat bahwa, lemabaga kecil ini (keluarga) senantiasa di dalamnya mempermuliakan nama Allah yang telah mempersatukan mereka.
Dasar Alkitab tentang Perkawinan
            Sejak permulaan penciptaan, Allah menciptakan manusia untuk suatu tujuan yang kekal. Manusia diciptakan untuk tujuan Allah sendiri dalam dunia ini. Rick Warren berkata dalam bukunya bahwa, “Anda dijadikan untuk Allah, bukan sebaliknya, dan hidup berarti membiarkan Allah memakai Anda bagi tujuan-Nya, bukan Anda yang menggunakan Allah bagi tujuan Anda sendiri.”[3] Tapi satu hal yang perlu diingat bahwa meskipun tujuan Allah bagi manusia adalah tujuan kekekalan, namun perkawinan tidak berlanjut sampai kepada kekekalan.
            Salah satu nas yang penulis akan jadikan sebagai dasar Alkitabiah tentang perkawinan adalah pengajaran Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 19:4-6. Dalam ayat 4 yang berkata, “Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” Ayat ini dikutip oleh Yesus berdasarkan firman Tuhan dalam Kejadian 1:27. Ayat ini menjelaskan tentang Allah sebagai sang Pencipta dan menciptakan laki-laki dan perempuan. Penciptaan manusia, yaitu laki-laki dan perempuan menandakan adanya perbedaan di antara keduanya meskipun keduanya sehakikat.
Perbedaan dari kedua pribadi ini (laki-laki dan perempuan) tidak menunjukkan masalah buat Allah, justru menunjukkan karya kreatif Allah yang luar biasa. Berdasarkan Kejadian 1:31 tentang apa yang Allah telah jadikan ‘sungguh amat baik’ merupakan bukti bahwa semua yang diciptakan Allah, khususnya manusia termasuk seksualitas mereka adalah hal yang “sungguh amat baik” dalam pemandangan Allah.
Nas berikutnya dalam ayat 5 dan 6 berkata, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging . Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ayat ini kemudian menjadi penjelasan yang mendalam dari Yesus sendiri mengenai pertanyaan yang diajukan kepada-Nya yang dikutip-Nya dari Kejadian 1:24.  Sebelumnya dalam Kejadian 1:18, 20-22 Allah melihat kebutuhan manusia pertama akan pendamping hidupnya sebagai penolong yang sepadan dengan dia. Karena itu, Allah mengaruniakan kepada manusia pertama seorang penolong yang sepadan dengan dia dengan cara mengambil salah satu rusuk Adam, dan membuat baginya seorang perempuan. B. Ward Powers berkata bahwa, “perempuan diambil dari rusuk laki-laki menunjukkan bahwa laki-laki tidak lengkap tanpa perempuan dan sebaliknya perempuan tidak lengkap tanpa laki-laki.”[4] Sedangkan penolong yang sepadan menunjukkan bahwa, perempuan merupakan rekan yang senantiasa mengasihi dan bersama-sama bertanggung jawab dalam memnuhi maksud Allah bagi kehidupan laki-laki dan keluarganya.
 Dengan demikian , lebih jelas lagi bahwa Allah menghendaki dalam sebuah perkawinan itu satu pasangan dan satu perkawinan untuk seumur hidup. Rencana Allah dalam sebuah perkawinan adalah bagaimana dalam sebuah perkawinan itu antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan bersatu menjadi satu daging, baik secara jasmani maupun rohani. Dalam semuanya itu mereka harus saling melengkapi  dalam memenuhi tujuan Allah dalam kehidupan keluarganya untuk kemuliaan Allah.
Kisah Penciptaan menunjukkan—dan pengajaran Yesus meneguhkan dan menguatkan—bahwa manusia dengan sengaja diciptakan Allah dengan tiga macam kebutuhan dasar, yakni: pertemanan hidup, saling menolong, dan pemenuhan hasrat seksual. Lebih tepat lagi mengatakan berdasarkan pandangan Alkitab bahwa sebenarnya tujuan perkawinan hanya satu, yaitu dua kehidupan yang menyatu secara menyeluruh. Ketiga tujuan di atas hanyalah aspek yang berbeda dari satu tujuan dasar itu, yang saling berkaitan satu sama lain.[5]
            Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, nyata bahwa perkawinan adalah hal yang sakral di hadapan Allah. Karena di hadapan Allah sebuah pasangan laki-laki dan perempuan mengikat perjanjian untuk masuk dalam rumah tangga melalui proses perkawinan. Perkawinan pada dasarnya Allah kehendaki untuk manusia agar mereka saling melengkapi satu sama lain. Semua yang Allah ciptakan adalah sungguh amat baik, karena diciptakan di dalam kekudusan-Nya. Oleh karena itu, perkawinan yang Allah kehendaki adalah sebuah hal yang kudus di hadapan-Nya yang seharusnya tidak dikotori oleh manusia ciptaan-Nya.
Perceraian dalam Pandangan Etika Krsiten secara Alkitabiah
            Semua masalah dalam dunia ini membutuhkan pemecahan dan tentu pemecahan itu harus diawali dengan keputusan dari setiap pribadi. Keputusan tersebut biasanya disebut sebagai keputusan etis. Keputusn etis dari setiap pribadi harus berdasarkan etika yang berlaku. Malcolm Brownlee berkata dalam bukunya bahwa, “Etika” dan “etis” hampir sama dengan “moralitas” dan “moral.” Akan tetapi dalam pemakaian ilmiah “moralitas” biasanya menyangkut kebaikan atau keburukan kelakuan lahir yang sebenarnya terjadi. Sedangkan “etika” menyangkut pemikiran yang sistematis tentang kelakuan itu serta motivasi dan keadaan batin yang mendasarinya.[6] Jadi, ketika etika dihubungkan dengan ajaran Kristen, itu berarti etika yang ada harus didasari dengan pengajaran Kristen itu sendiri. Salah satu masalah yang harus dipecahkan secara etika Kristen adalah masalah perceraian.
Pada dasarnya perkawinan yang Allah kehendaki adalah perkawinan yang bersifat monogami. Ketika Allah mempersatukan dua orang, antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah perkawinan, Allah menghendaki dan memerintahkan mereka menjadi satu daging dan tidak boleh dipisahkan satu sama lain (Mat. 19:6; Rm. 7:12). “Implikasinya adalah bahwa dalam rencana Allah yang asli, penciptaan perkawinan bersifat tidak terceraikan dan tidak ada instansi manusiawi pun yang dapat mengakhiri persatuan demikian (Mat. 19:6).”[7]
Divorce
Dalam Mal. 2:16 Allah berkata kepada Maleakhi, “Aku membenci perceraian.” Ini berarti bahwa Allah tidak pernah mengharapkan dan merancangkan perceraian di antara pasangan suami isteri dari semula, sebab ketika Allah berkata Dia membenci perceraian itu berarti perceraian adalah sesuatu yang tidak menyenangkan hati Allah. Ketika Allah mempersatukan, itu tidak boleh dipisahkan oleh manusia (Mat.19:6).
Meskipun Allah tidak pernah merancangkan adanya perceraian, namun di sisi lain yang menjadi pertanyaan, apakah Allah mengizinkan adanya perceraian? Yesus  berkata dalam Matius 19:8 demikian, “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.” Dari nas Matius 19:8 dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Allah mengizinkan perceraian tetapi tidak pernah memaksudkan perceraian. Perceraian terjadi pada masa Perjanjian Lama itu karena ketegaran hati umat Allah pada saat itu, bukan atas rancangan Allah. Hal itu terjadi karena kehendak manusia yang tidak sanggup mengahadapi masalah yang menimpa hubungan mereka, sehingga mengambil jalan penyelesaian masalah dengan perceraian.
Dalam Mar.10:11-12; Luk. 16:18, Yesus mengutuk keras perceraian dan secara tegas tidak memberikan perkecualian mengenai perceraian apa pun itu yang menjadi alasannya.  Yang disebut perkecualian dalam bagian paralel dalam Injil Matius (19:1- 9, bdk. dengan 5:32) menjelaskan bukan tentang perceraian karena perzinahan melainkan pembatalan karena “percabulan” sebelum perkawinan (ayat 9). Hal ini sesuai dengan penekanan Yahudi dalam Injil Matius dan hukum Yahudi tentang percabulan sebelum perkawinan menjadi dasar dibatalkannya perkawinan. Menurut hukum Yahudi, istilah suami juga berarti pria yang sudah bertunangan (Ul. 22:13-19; Mat. 1:18-25). Selanjutnya, dalam Injil Lukas tidak memberikan perkecualian untuk perceraian melainkan berkata secara tegas, “Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.”[8]
Dengan demikian perceraian merupakan tindakan yang tidak pernah dibenarkan dalam ajaran kekristenan. Perceraian yang dibolehkan di atas hanya dalam konteks ketika masih dalam keadaan bertungan. Dalam tradisi Yahudi, sebelum berlangsungnya perkawinan mereka harus bertungan terlebih dahulu. Perceraian dapat diijinkan jika mereka masih dalam status bertungan jika salah satunya didapati berbuat cabul dengan orang lain, namun setelah mereka adalah dalam ikatan perkawinan, perceraian tidak dapat diizinkan karena mereka sudah menjadi satu secara daging (Mat.19:6).
Meskipun dalam pandangan lain, beberapa orang mendukung adanya perceraian berdasarkan beberapa alasan yang juga didasari oleh firman Tuhan. Seperti adanya perzinahan yang terjadi dan ditinggalkan oleh pasangan yang tidak beriman, hal ini boleh saja melakukan perceraian. Tapi bagi penulis, perceraian dalam bentuk alasan apa pun seharusnya tidak diperbolehkan. Masalah-masalah yang terjadi dalam sebuah hubungan perkawinan tidak seharusnya diselesaikan dengan jalan perceraian, namun masih banyak cara untuk membuat kembali hubungan antara suami dan isteri baik kembali. Salah satunya adalah menyadari keterbatasan sebagai manusia yang penuh dengan kesalahan dan perlunya pertobatan yang sungguh-sungguh di hadapan Allah.
Satu hal yang perlu disadari bahwa ketika Allah sejak semulanya menciptakan manusia sebagai pasangan (monogami) yang saling diperlengkapi dan dipersatukan menjadi satu secara daging, tidak mungkin Allah juga merancangkan perceraian. Hanya kadang manusia yang tidak sanggup menjalani rancangan Allah dalam kehidupan mereka, secara khususnya dalam ikatan perkawinan, sehingga menciptakan kebenaran-kebenaran sendiri untuk mempertahankan apa yang menjadi kehendaknya.
Secara etika Kristen, memang hal ini menjadi masalah yang agak rumit untuk dijalankan. Namun bagaimana pun, ketika berbicara secara etika Kristen yang diperlukan adalah keputusan yang dapat diterima kebenarannya. “Etika Kristen menolong orang-orang untuk berpikir dengan lebih terang tentang kehendak Allah supaya mereka dapat mengembangkan hidupnya sendiri dan kehidupan masyarakat yang lebih sesuai dengan kehendak Allah.”[9] Dengan kata lain, secara etika Kristen perceraian tidak diperbolehkan. Karena perceraian tidak sesuai dengan kehendak Allah, sebab dari semula kehendak Allah adalah mempersatukan dua insan, antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan dalam sebuah ikatan perkawinan.
Anak Menjadi Korban Utama dalam Perceraian!
Sebuah keluarga sebenarnya menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia. Dick Iverson dalam bukunya berkata bahwa, “Allah mengukuhkan suatu keluarga supaya terbentuk hubungan dan persekutuan yang berpusat pada Allah.”[10] Jadi ketika perceraian itu terjadi, sama halnya manusia sedang merusak hubungannya dengan Allah. Hubungan yang rusak dengan Allah masih dapat diperbaiki dan perceraian sama sekali bukan jalan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Perceraian malahan merupakan unsur yang merusak seara total hubungan antara manusia dengan Allah. Kesiapan sebuah keluarga untuk dipulihkan oleh Allah adalah jalan untuk mengatasi masalah yang ada. Sekali lagi, perceraian tidak pernah menghasilkan sesuatu yang baik. “Perceraian selalu meninggalkan goresan yang tak mudah disembuhkan.”[11] Goresan itu bukan hanya dialami oleh pasangan yang bercera, tetapi anggota keluarga yang lain pun akan merasakan goresan yang mendalam, khususnya bagi anak-anak mereka.
Pada dasarnya, sesuatu yang menimbulkan dampak yang buruk bagi kehidupan manusia tentu merupakan hal yang tidak pernah dikehdaki oleh Allah. Sebab Allah senantiasa mengharapkan segala yang baik terjadi dalam kehidupan umat manusia yang dikasihinya.

BAB III
KESIMPULAN
            Perkawinan adalah pilihan hidup bagi sebagian besar manusia. Perkawinan merupakan anugerah dari Tuhan bagi setiap pasangan dalam suatu keluarga. Allah merancangkan perkawinan monogami bagi setiap manusia yang diciptakan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Namun terkadang oleh karena kesalahan manusia, mereka tidak sanggup menjalankan apa yang menjadi kehendak dari Allah dalam kehidupan mereka.
            Kesalahan manusia itu bukan hanya ingin keluar dari batasan perkawinan yang bersifat monogami, tetapi manusia malah berusaha untuk memisahkan apa yang sudah Allah persatukan dengan cara perceraian. Perceraian kadang menjadi jalan pintas untuk menyelasaikan masalah dalam kehidupan berumah tangga, namun perceraian sebenarnya bukanlah jalan yang dikehdaki Allah. Sebab ketika manusia berusaha untuk memisahkan hubungan suami isteri, itu sama halnya manusia merusak hubungan mereka dengan Allah.
            Jadi pada dasarnya, penulis melihat bahwa perceraian itu tidak dibenarkan secara etika Kristen. Bagaimana pun juga perceraian melanggar dasar kebenaran firman Tuhan yang melarang dan membenci akan perceraian. Masalah dalam sebuah rumah tangga tidak dapat diselesaikan dengan perceraian, karena perceraian hanya akan menambah goresan yang dalam bagi pasangan suami isteri dan juga keluarganya yang lain. Dengan kata lain, perceraian tidak menyelesaikan masalah yang ada, namun akan menimbulkan masalah yang baru.

DAFTAR PUSTAKA
Bergant, Dianne dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. 2002.
Brownlee, Malcolm. Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1982.
Geisler, Norman L. Etika Kristen “Pilihan dan Isu Kontemporer” .Malang: Literatur SAAT. 2010).
Iverson, Dick dkk. Memulihkan Keluarga “Prinsip-Prinsip Kehidupan Keluarga” Jakarta: Harvest Publication House. 1996
Powers, B. Ward. Perceraian dan Perkawinan Kembali. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih. 2011.
Tong, Stephen. Keluarga Bahagia. Surabaya: Momentum. 2006.
 Warren, Rick. The Purpose Driven Life. Malang: Gandum Mas. 2006.




[1]Stephen Tong, Keluarga Bahagia (Surabaya: Momentum, 2006), 47.
[2]Norman L. Geisler, Etika Kristen “Pilihan dan Isu Kontemporer” (Malang: Literatur SAAT, 2010), 355-357.
[3]Rick Warren, The Purpose Driven Life (Malang: Gandum Mas, 2006), 18.
[4]B. Ward Powers, Perceraian dan Perkawinan Kembali (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2011), 17.
[5]Ibid., 20-21.
[6]Malcolm Brownlee, Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982),16.
[7]Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 62.
[8]Norman L. Geisler, 361.
[9]Malcolm Brownlee, 16.
[10]Dick Iverson, dkk, Memulihkan Keluarga “Prinsip-Prinsip Kehidupan Keluarga” (Jakarta: Harvest Publication House, 1996), 3.
[11]Norman L. Geisler, 360.